Irak menjadi juara Piala Asia 2007. Istilah surprise winners pun diberikan kepada mereka. Tetapi buat saya, Irak adalah worthy winners, kemenangan mereka bukan kejutan. Tim sepakbola Irak telah merintis jalan menjadi juara Asia sejak beberapa tahun lalu. Di Olimpiade Athena 2004 timnas Irak mencapai semifinal. Di Asian Games Qatar 2006 Irak terus melaju sampai ke final meski hanya mendapatkan medali perak sebagai juara kedua.Menghadapi Piala Asia 2007 ini persiapan Irak memang minim, tidak lebih baik dibanding persiapan menghadapi turnamen-turnamen sebelumnya. Mungkin ini lah yang membuat banyak orang tidak yakin mereka akn mampu berprestasi di turnamen ini. Pelatih kepala mereka, Jorvan Viera hanya dikontrak dua bulan sebelum turnamen, mereka pun tidak punya tempat pemusatan latihan di Irak, karenanya mereka bersiap di Jordania dan Korea Selatan. Hubungan antar pemain beberapa bulan sebelum kejuaraan disebut Viera sangat buruk, mereka terbawa perbedaan yang kian meruncing di dalam negeri.
Di Piala Asia 2007, hampir tiap kemenangan disambut warga Irak tanpa menghiraukan jam malam dan aturan keamanan yang lebih ketat dari pemerintah. Selain situasi keamanan yang kita tahu tidak kondusif di Irak, pemerintah punya alasan lain untuk memperketat keamanan jika terjadi perayaan kemenangan. Menurut situs Al-Jazeera, orang Irak biasa merayakan berbagai macam kemenangan dengan menembakan senjata berulang-ulang ke udara. BBC dan Associated Press mencatat 50 orang tewas ketika kelompok teroris melancarkan bom bunuh diri di tengah kerumunan orang yang sedang merayakan kemenangan Irak atas Korea Selatan di semi-final; sementara dua orang lain juga tewas terkena peluru yang jatuh setelah ditembakkan ke udara. Saat perayaan menjadi juara, memang tidak ada serangan teroris, tetapi perayaan tetap membawa korban dengan tewasnya empat orang karena peluru yang jatuh.
Apa arti kemenangan ini bagi rakyat Irak ? Ini adalah prestasi yang membawa kebanggaan, kegembiraan, dan harapan bagi mereka. Mengutip laporan AFP, Taiseer Hussein seorang pelajar dari Khadra, sebelah barat Baghdad mengatakan, “Kami keluar dan merayakan kemenangan ini untuk mengirim pesan kepada para pembunuh di Irak bahwa mereka tidak bisa mencegah kami untuk menjalani hidup seperti orang-orang lain (yang hidup damai) di dunia.” Sementara Warga Irak lainnya dan para pengungsi asal Irak di Syria maupun Jordania kebanyakan berkomentar bahwa tim sepakbola Irak telah menunjukkan semangat yang luar biasa dan mereka berharap politisi Irak mencontoh persatuan yang ada dalam tim sepakbolanya.
Sayangnya, euforia memang tak bertahan lama. Dua hari setelah perayaan, ketika timnas Irak belum lagi sampai ke Baghdad, bom bunuh diri kembali terjadi. Kota Hibhib, sebelah utara Baghdad menjadi sasaran dan menewaskan tigabelas orang. Semakin jelas bahwa teroris di Irak adalah orang-orang bodoh. Mereka tidak menangkap pesan yang ditunjukkan pesepakbolanya, bahwa dengan tetap hidup anda bisa membahagiakan sepuluh, seratus, seribu, bahkan seluruh warga Irak.
Bagaimana dengan para politisi Irak ? Setelah menjatuhkan pemerintahan Saddam Hussein, Amerika Serikat (AS) melibatkan diri secara aktif dalam pembentukan pemerintahan baru di Irak. AS mendukung para pemimpin dari kelompok Kurdi dan Syi’ah yang selama pemerintahan Saddam berada di bawah tekanan, dan tidak menyukai pemerintahannya. Irak kini dipimpin oleh Perdana Menteri (PM) Nuri Al-Maliki dan kebanyakan menteri serta anggota parlemen berasal dari kelompok Syi’ah dan Kurdi. Seiring waktu dan kekerasan yang tidak pernah berhenti, pemerintahan Irak harus mengakomodir kelompok Sunni dan kembali memberi mereka tempat di pemerintahan; terbentuk lah semacam koalisi nasional di parlemen maupun kabinet.
Sejak April tahun ini, koalisi terancam ketika Muqtada Al-Sadr, pemimpin kelompok Syi’ah yang memiliki banyak pendukung justru menyatakan kelompoknya menarik dukungan terhadap pemerintah. Tanggal 1 Agustus 2007, lagi-lagi hanya sekitar dua hari setelah kemenangan Irak, kelompok Sunni yang tergabung dalam National Accordance Front menarik dukungan terhadap pemerintah, namun akan tetap menghadiri sidang-sidang parlemen. Al-Jazeera melaporkan sebab penarikan dukungan ini adalah ditolaknya keinginan kaum Sunni untuk lebih terlibat dalam masalah-masalah keamanan Irak. Masih menurut Al-Jazeera, kelompok Sadrist yang merupakan pendukung utama PM Al-Maliki sebenarnya juga telah menarik dukungan sejak Juni lalu. Ini membuat pemerintahan Al-Maliki semakin kehilangan legitimasi, mungkin hanya dukungan dari AS saja yang membuat Al-Maliki masih menjabat sebagai PM.
Politisi Irak ternyata sama bodohnya dengan para teroris di negara itu. Persatuan yang dicontohkan tim sepakbolanya belum mampu menyadarkan mereka untuk bersatu. Mereka hanya mendapat sedikit simpati dengan janji menghadiahkan US$ 10.000 untuk tiap anggota tim, padahal mereka mampu mendapat simpati dan menarik dukungan lebih banyak orang dengan komitmen dan aksi nyata untuk persatuan Irak. Tim sepakbola Irak teridiri dari orang-orang Sunni, Syi’ah, dan Kurdi serta dipimpin seorang pelatih dari Brazil. Apakah untuk menjadi negara bersatu Irak juga harus dipimpin orang Brazil!?
(tulisan aslinya ditujukan untuk portal HI, dimuat pada agustus 2007)
any comments?